Featured image of post Silence the Noise: Kamu Tidak Seperti Yang Kamu Pikirkan

Silence the Noise: Kamu Tidak Seperti Yang Kamu Pikirkan

Bagaimana hidup berdampingan dengan suara di kepala kita yang selalu "berpikiran negatif" dan overthinking?

Handphone kita berdering. Di layar muncul nama “Boss”. Kita tahu kita perlu mengangkat telepon ini. Tapi di waktu yang singkat tersebut, muncul pikiran, “Jangan-jangan dia marah… Aku ada bikin salah apa ya?”. Pikiran tersebut kemudian membuat kita takut, dan kita mulai berusaha menyiapkan diri untuk menerima amarah tersebut. Kita pun mulai merasa bersalah.

Kita pun kemudian menjawab telepon tersebut, dan ternyata beliau meminta kita untuk meeting di Jumat minggu depan. Dia terdengar kalem dan tidak ada nada marah pada suaranya.

Tapi kita tidak bisa berhenti khawatir. “Jangan-jangan aku bakal dipecat. Apakah akhirnya aku digantikan oleh AI?”, pikir kita. Berhari-hari kita menjalani hari dengan rasa khawatir sampai hari meeting tersebut pun akhirnya tiba. Meeting tersebut ternyata ingin mendiskusikan mengenai target perusahaan kwartal berikutnya. Akhirnya kita khawatir berhari-hari untuk hal yang sia-sia.

Ada lagi kejadian lainnya saat kita mau melamar pekerjaan. Kita punya skill yang diperlukan, kita mampu mengerjakan pekerjaannya, kualifikasinya sangat sesuai dengan yang kita miliki. Tapi kemudian pikiran kita mulai bicara, “Gak usah lah… Nanti ngelamar malah cuman ditolak malah sakit hati. Kamu gak bakal diterima. Kamu itu sudah tua dan obsolete.”

Kalau kamu bisa relate dengan kedua cerita diatas, maka tulisan ini mungkin bisa memberikan sudut pandang baru. Seluruh cerita diatas itu adalah gambaran bagaimana pikiran kita bekerja. Seringkali itu berisik, non-stop, dan berusaha mengontrol hasil dari sebuah kejadian.

But here is the uncomfortable truth. That voice is not you.


Sebuah Ilusi dari Identitas

Untuk sebagian besar orang, suara di kepala kita (inner monologue) tersebut sudah kita dengar seumur hidup. Tapi kalau yang perlu kita pahami adalah, suara tersebut sebenarnya bukanlah diri kita. Suara tersebut adalah kumpulan dari pengalaman dari masa lalu, label yang kita berikan, keputusan pernah kita buat, dan rasa takut. Semua hal tersebut menjadi sebuah pattern yang terus berjalan di dalam kepala kita sebagai background processes. Inner monologue tersebut terus mengulang cerita yang sama, terus dan terus. Disaat inner monologue tersebut bilang, “Saya sedih”, maka kita seketika percaya dan kemudian menjadi sedih. Kita menganggap bahwa inner monologue tersebut adalah identitas dari diri kita.

Inner monologue tersebut bisa kita sebut sebagai “pikiran” kita. Dan pikiran tersebut sebenarnya adalah alat, bukan penguasa atau majikan kita. Pikiran ini akan terus berpura pura menjadi diri kita. Pikiran ini bukanlah siapa kita sebenarnya. Pikiran ini hanya seperti ombak di laut kesadaran kita (awareness). Kita bukan ombaknya, tetapi kita adalah air dimana ombak ini bergulung.

Consciousness is not intelligence.

Apa bedanya consciousness dengan intelligence? Consciousness adalah kesadaran terhadap keberadaan diri kita. Consciousness ini bisa kita bayangkan sebagai sebuah ruang dimana pikiran dan pengalaman itu timbul. Jadi pada consciousness kita tidak berpikir, tetapi “menyaksikan” atau “mengalami”. Sedangkan Intelligence adalah kemampuan otak kita untuk menganalisa, mengingat fakta, menyelesaikan permasalahan, dan melakukan proses dari pengalaman-pengalaman kita. Intelligence selalu berkaitan dengan memori dan data.

Sebenarnya seberapa banyak yang kita tahu atau seberapa pintar (kita pikir) diri kita, bukanlah hal yang penting. Lebih baik jika kita dengan kesadaran (awareness) penuh menyaksikan dan mengalami apa yang sedang terjadi…. saat ini. Disaat kita masih menjadikan intelligence sebagai identitas diri, sebenarnya kita hanya menggunakan muscle memory kita untuk hidup secara auto-pilot.

Mengesampingkan semua istilah-istilah yang digunakan dan maknanya mirip atau beririsan, yang perlu dipahami sebenarnya hanya satu. Memahami bahwa kita bukanlah “pikiran” kita. Disaat kita berhasil memisahkan diri dan tidak lagi menjadikan “pikiran” tersebut sebagai identitas diri kita, maka kita sudah terbebas dari kontrol “pikiran” kita tersebut. Kita akan menjadi pihak yang mengamati dan menyaksikan “pikiran” kita bekerja. Pada ruang “consciousness” tersebut, hal luar biasa akan terjadi: Kita dapat memilih reaksi dan respon kita, dibandingkan sebelumnya dimana kita diperbudak oleh “pikiran” kita tersebut.


Perangkap dari Waktu

Sekarang kita akan bahas hal yang menarik. Kenapa “pikiran” kita selalu fokus dengan masa lalu dan masa depan?

Hal tersebut bisa terjadi karena “pikiran” kita perlu konsep atas waktu untuk dapat eksis. Pikiran kita tidak bisa ada pada “saat ini”, karena saat ini hanya bisa dijalankan / diamati. “Pikiran” hanya bisa hadir pada cerita mengenai “apa yang pernah terjadi” atau “apa yang akan terjadi”. “Pikiran” akan menggunakan informasi berupa kejadian, label, atau luka dari masa lalu.

Kombinasi “pikiran” dengan masa lalu akan menimbulkan sesal, rasa bersalah, atau kenangan yang membuat kita terperangkap pada kejadian yang sudah tidak ada lagi. Sementara kombinasi pikiran dan masa depan akan menimbulkan khawatir, was-was, takut kehilangan, atau antisipasi berlebihan yang menghalangi kita untuk dapat menikmati “saat ini”. Kita sibuk over-thinking karena pikiran kita terus menciptakan narasi dan skenario yang mengalihkan kita dari “saat ini”.

Tapi realita sebenarnya, sesungguhnya tidak ada yang nyata selain “saat ini”. Hanya saat ini yang kita miliki dan satu-satunya hal yang nyata. Sisanya, baik masa depan, maupun masa lalu, hanyalah konstruksi dari “pikiran” kita.

“Pikiran” kita tersebut yang membuat cerita mengenai “yang pernah terjadi” dan “yang akan terjadi”. Disaat kita hidup di masa lalu, kita memainkan ulang skenario yang sama berulang-ulang. Di saat kita hidup di masa depan, kita mengkhawatirkan skenario yang belum terjadi. Disaat kita terjebak pada perangkap cerita tersebut, kita kehilangan kesempatan untuk mengalami satu-satunya hal yang nyata, yaitu “saat ini”.

Penderitaan sebenarnya terjadi ketika kita menolak terhadap “kenyataan”. Disaat “pikiran” kita mulai memanipulasi “kenyataan” untuk bisa masuk akal dengan cerita yang dibuat, disitulah muncul konflik dengan “kenyataan” dan muncul penderitaan. Disaat kita menerima “kenyataan” yang terjadi “saat ini”, kita baru dapat membebaskan diri dari luka masa lalu, dan ketakutan atas masa depan. Kita tidak lagi menjadi budak dari waktu. Kita tidak lagi diperbudak oleh “pikiran” kita.


Kisah Petani dan Kudanya

Ada satu kisah yang pernah diceritakan oleh Alan Watts di lecture-nya yang berjudul “Swimming Headless”. Ceritanya seperti ini:

Ada seorang petani yang memiliki kuda tua.

Suatu hari, kuda tersebut pergi meninggalkan si petani. Tetangga si petani lalu berkata: “Sungguh sebuah tragedi! Tanpa kudamu, kamu jadi tidak bisa mengelola lahanmu”

Sang petani menjawab “Mungkin iya, mungkin tidak”

Di hari berikutnya, kuda yang kabur tersebut kembali dengan 6 ekor kuda lainnya. Tetangga si petani pun ikut merayakannya: “Kamu sungguh beruntung! Kamu bisa menjual kuda-kuda tersebut!”

Petani itu kembali menjawab “Mungkin iya, mungkin tidak”

Anak si petani kemudian mencoba menunggangi salah satu kuda yang baru, tetapi kemudian jatuh dan kakinya patah. Tetangganya berkata: “Sungguh malang! Anakmu sekarang jadi tidak bisa membantumu”

Petani itu menjawab lagi “Mungkin iya, mungkin tidak”

Besoknya, seorang prajurit mengumpulkan para anak muda dari desa tersebut untuk pergi berperang. Karena kakinya yang patah, anak si petani dibebaskan dari kewajibannya pergi berperang. Tetangganya kembali berkata: “Kamu sangat beruntung! Anakmu tidak perlu pergi berperang”

Petani itu menjawab lagi “Mungkin iya, mungkin tidak”

Pada cerita tersebut, si petani tidak menyangkan kenyataan. Dia juga tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Sang petani ada pada ruang dimana setiap kemungkinan dapat terjadi. Dia tidak memberikan label bahwa sesuatu ini “baik”, ataupun “buruk”. Dia hanya menjalani apa yang terjadi saja.

Apa yang dilakukan oleh petani inilah yang bisa menjadi contoh menjalani hidup hanya pada “saat ini”. Dia tidak membiarkan pikirannya untuk menilai dan menghakimi hal yang terjadi. Dia membiarkan “kenyataan” untuk bergulir seperti adanya.

Cerita ini bukan mengajarkan kita untuk menjadi pasif. Cerita ini adalah tentang tidak terjebak dengan pikiran yang secara tergesa-gesa melabeli sesuatu sebagai hal yang “baik” ataupun “buruk”. Disaat sebuah hal terjadi, kita perlu berhenti dan kemudian bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah ini reaksi karena pengalaman masa lalu saya, ataukah saya sedang bereaksi terhadap ‘saat ini’”?

Jawaban “Mungkin iya, mungkin tidak” dari petani tersebut, adalah sebuah semangat dari “nrimo”, bukan menyerah. Sadar bahwa kita hanya bisa menerima hasil dan efek dari semua hal yang terjadi. Memahami hal ini, akan membebaskan kita dari penderitaan yang tidak perlu.


Bahaya Sebenarnya vs Bahaya Imajiner

Hal lainnya yang kita perlu paham: “pikiran” kita akan menceritakan cerita mengenai bahaya, tapi sebagian besar diantaranya bersifat delusi.

Coba pikirkan perbedaan antara:

  • Bahaya sebenarnya: Api, rasa sakit, dan ancaman atas keselamatan kita yang bersifat nyata.
  • Bahaya imajiner: “Bagaimana kalau ini menyakiti aku?” atau “Bagaimana kalau dia meninggalkan aku?”

Sebagian besar penderitaan yang kita alami hadir dari antisipasi terhadap bahaya imajiner. “Pikiran” kita melebih-lebihkan bahaya untuk menjadi pembenaran dari sebuah rasa takut. “Pikiran” menciptakan skenario yang terkesan nyata, tapi sebenarnya tidak.

Ketakutan dari “pikiran” kita itu sebenarnya adalah respon yang terkondisikan dan kita biasakan. Selama kita masih mengidentifikasikan dengan hal tersebut, kita akan tetap menderita. Tapi jika kita memiliki awareness terhadap hal tersebut, kita dapat merubahnya. Jika sebuah bahaya bersifat nyata seperti rasa sakit, atau kondisi tidak aman, maka kita perlu mengambil tindakan. Tapi jika itu hanya sebuah cerita, kita perlu memiliki belas kasih terhadap “pikiran” kita dan bukan melawannya. Melawan “pikiran” kita hanya akan membuatnya semakin mendominasi. Awareness dan nrimo akan membuatnya menjadi lebih lunak.

Kita akan sering menemukan bahwa kenyataan tidak seburuk yang “pikiran” kita bayangkan. Cerita yang dibuat oleh “pikiran” kita biasanya sangat ekstrim dan berusaha membuat kita dalam kondisi siaga untuk mengontrol sesuatu yang diluar kendali kita.


Cara Untuk Selalu Hadir Pada “Saat Ini”

Berikut adalah hal yang dapat kita praktekkan untuk dapat menjalani “saat ini” disaat inner monologue kita mulai berisik:

Bernafas Secara Terkontrol

Saat inner monologue kita berisik, berhenti sejenak dan rasakan nafas kita masuk dan keluar dari tubuh kita. Ini bukan “memikirkan”, tapi “merasakan”. Fokus pada ritme atau tempo dari nafas kita. Rasakan nafas tersebut saat kita menghirup dan menghembuskannya. Ini akan membawa kita untuk “kembali” ke “saat ini”

Nrimo

Ucapkan, “Oke. Memang ini kenyataannya”. Jangan memaksakan realita sesuai dengan apa yang kita inginkan. Disaat kita mulai melawan apa yang sedang terjadi, kita menciptakan konflik. Disaat kita menerima segala sesuatu seperti apa adanya, kita sudah membebaskan diri kita dari konflik batin tersebut.

Bertanya

“Siapa ya yang sedang memikirkan hal ini?”, akan membuat kita menciptakan jarak dengan “pikiran” kita. Kita menjadi orang baru yang tidak lagi sama dengan “pikiran” kita tersebut. Kita stop menjadi “pikiran” kita, dan kita menjadi “awareness” yang sedang memerhatikan “pikiran” kita.

Merasakan

Ini adalah yang paling mudah buat dilakukan. Disaat saya terjebak dengan “pikiran”, saya akan mengusap tangan saya ke wajah, merasakan sensasi kulit yang bersentuhan. Terkadang saya juga mencuci tangan dan merasakan air yang dingin dan mengalir.


Closing Thought

Kita tidak perlu berharap bahwa dunia menjadi ideal. Kita hanya perlu menemukan ketenangan diri yang tidak terganggu oleh pikiran kita. Disaat kita sadar bahwa kita bukanlah “pikiran” kita, kita bisa selalu menjalani hidup di “saat ini” secara seutuhnya.

Disaat “pikiran” kita mulai menceritakan hal negatif, stop dan tanyakan… “Apakah ini yang sebenarnya, atau hanya cerita?”. Kalau itu hanya cerita, maka biarkan saja.

Peace is not the absence of noise. It’s the silence within the noise.

Apapun yang sedang kamu rasakan, semoga kamu bisa menemukan jalan untuk dapat kembali.


Referensi

Tulisan ini bukan ringkasan dari buku tertentu, tapi kalau ditanya inspirasinya, saya mungkin akan menyebutkan 3 hal.

  • Buku “The Power of Now”, dari Eckhart Tolle
  • Konsep “Advaita Vedanta”,
  • Konsep filosofi dan spiritual “Non-Duality”

Foto cover oleh yejun0405 dari Unsplash

Dibawah Lisensi CC BY-NC-SA 4.0
Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy